Namun bukan berarti harta, benda, kedudukan, status tidak penting.Semua itu merupakan bagian pelengkap kebahagiaan. Ibaranya, sugiho kayang apa (sekaya apa pun, red) jika hati tidak tenteram, sungguh tidak ada artinya.
Segala sesuatu yang berhubungan dengan penampilan ragawi (ganteng, cantik, gagah, pideksa) ada batasnya. Hak kepemilikan dunia juga ada batasnya. Dan semua itu, yakinlah, akan terkalahkan jika hati dan pikiran klop jadi satu.
Sebab jika hati dan pikiran klop, dia akan menerima apa pun pemberian dari Allah tanpa memberontak. Karena dia yakin, hidup ini hanya anugrah dari Allah. Manusia tinggal menjalani. Menjalani hidup sesuai dengan ukurannya. Sesuai takarannya.
Dalam ajaran SH Terate, dikatakan manusia itu harus bisa mengukur dirinya sendiri. Bahasa Jawanya ”Sakdedeg sakpangawe”.
Kalau kita bisa bersikap seperti itu, kita akan menjalani hidup ini dengan tersenyum. Karena yakin, tugas manusia itu tetap berusaha dan terus menerus memohon kepada Allah agar diberi sesuai dengan hak-haknya. ”Sumeleh” menjalani kodrat-Nya.
Manusia punya hati, manusia punya pikiran. Tugas manusia menggunakan hati dan pikiran untuk tetap berusaha dan berus berusaha, serta memohon kepada Allah agar diberi sesuai hak-haknya. Sesuai kodrat irama hidupnya.
WASIAT KETUA UMUM SH TERATE PUSAT MADIUN
Saya Ketua Umum SH Terate Pusat Madiun, berwasiat :
Pertama:
Bahwa sesungguhnya hakekat hidup ini berkembang menurut kodrat iramanya masing-masing menuju kesempurnaan. Demikian pun kehidupan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, hendak menuju ke-keabdian kembali kepada Causa Prima, titik tolak segala sesuatu yang ada, melalui tingkat ke tingkat, namun tidak semua insan menyadari bahwa yang dikejar-kejar itu telah tersimpan menyelinap di lubuk hati sanubarinya.
Mengemban amanat priambol SH Terate alenia pertama itu, saya berwasiat kepada Keluarga Besar SH Terate untuk terus berjuang membersihkan hati, sehingga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa memberi cahaya kasih, sinar timbal balik, sebagai bekal berdharma untuk mengamalkan ajaran Setia Hati guna membentuk manusia berbudi luhur tahu benar dan salah, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Kedua:
Bahwa Setia Hati sadar dan mangakui hakiki itu dan akan mengajak serta para warganya menyingkap tabir/tirai selubung hati nurani di mana Sang Mutiara Hidup Bertahta.
Menyadari makna hakiki kehidupan ini, maka saya mewajibkan kepada Keluarga Besar Setia Hati Terate untuk memeluk agama dan wajib menjalankan syariat agama yang diyakininya. Sebab, tabir/tirai selubung hati nurani di mana Sang Mutiara Hidup Bertahta, tidak akan tersingkap tanpa ridlo Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Yakinlah, hanya Allah, Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Tahu, siapa sesungguhnya Sang Mutiara Hidup Bertahta.
Ketiga:
Bahwa sesungguhnya roh organisasi SH Terate adalah persaudaraan. Karena itu saya berwasiat, sucikan roh organisasi ini dari kepentingan pribadi dan golongan. Jangan mencoba membawa SH Terate kemana-mana. Tapi SH Terate harus ada di mana-mana. Hindarkan nafsu adigang adigung adiguna. Peliharalah harkat dan martabat persaudaraan dengan dharma kemanusiaan serta
setiap saat berani tampil ke depan untuk memayu hayuning bawana.
Bahwa pencak silat adalah ilmu beladiri yang luhur. Warisan budaya adiluhung, berintikan seni olahraga yang mengandung unsur pembelaan diri untuk mempertahankan kebenaran, kehormatan, kedamian dan ketentraman. Karena itu saya berwasiat, pergunakan ilmu pencak silat untuk mempertebal kepercayaan kepada diri sendiri dan mengenal diri pribadi.
Saya mengharamkan kepada keluarga besar Setia Hati Terate memanfaatkan pencak silat untuk berbuat maksiat, membela kemungkaran serta berkelahi tanpa sebab prinsip yang sudah menyinggung harkat dan martabat kemanusiaan.
